Mitos Bekerja Keras vs Bekerja Cerdas

Mitos Bekerja Keras vs Bekerja Cerdas

Mike Rowe, host dari acara populer Discovery Channel seri Dirty Jobs, baru-baru ini menyoroti dikotomi dari bagaimana potret kerja di Amerika - dari satu sudut, mereka yang berkerah biru (pekerja lapangan) adalah kalangan "pekerja keras," sementara di sudut lain, kalangan urban berkerah putih (pekerja kantoran) adalah kalangan "pekerja cerdas"

Komentar Rowe tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan kontras antara persepsi antara pekerja kerah biru vs pekerja kerah putih. Pastinya pula banyak yang sudah mendengarkan ungkapan "bekerjalah dengan cerdas, bukan keras." Banyak pembahasan mengenai masa kerja terkait ungkapan tersebut, daripada bekerja berjam-jam untuk menuju kesuksesan, lebih baik beralih pada pengurangan jam kerja namun meningkatkan produktifitas dengan mendahulukan pekerjaan prioritas serta mengambil lebih banyak "me time."

Masalah dengan dikotomi kerja keras vs kerja cerdas adalah bahwa kita terlalu sering membingkai suatu pilihan hanya kepada "keras" atau "cerdas". Pertanyaannya adalah, mengapa kita tidak melakukan keduanya?

Salah satu cita-cita mencolok para pemukim Amerika sejak zaman dulu adalah memiliki etos kerja yang tak kenal lelah agar menjauh diri mereka dari tatapan yang merendahkan. Mentalitas seperti ini berlangsung selama lebih dari tiga abad, yang akhirnya membuat Amerika berkembang dari masyarakat agraris menjadi pemimpin industri dunia. Namun dalam masa transisi Amerika menuju jasa perekonomian - terutama selama revolusi digital di seperempat abad terakhir - mereka mulai melihat keunggulan kerja keras sebagai penopang utama yang menjadikan mereka terbebas dari era 'analog.' Dan kini melewati masa industri mereka mulai mengajarkan anak-anaknya agar bekerja lebih cerdas, bukan lebih keras?

Tumbuh dalam lingkungan doktrin "lebih cerdas, bukan lebih keras" telah memberikan banyak keuntungan bagi generasi muda. Dengan mempercayai teknologi dan efisiensi waktu, Amerika telah menjadi mahir dalam multitasking serta mampu kreatif, berikit ala entrepreneur. Dari masa muda, mereka telah dilatih untuk tidak pernah puas dengan cara-cara konvensional dalam hal melakukan berbagai hal dan tetap mencari jalan yang lebih baik.

Bekerja cerdas mungkin penting, namun hal itu hanyalah setengah bagian dari persamaan. Tidak ada entrepreneur sukses atau para eksekutif yang akan meminta Anda untuk mengaplikasikan pembatasan jam kerja setiap harinya untuk menjadi sukses besar. Untuk mencapai tingkatan paling atas, tidak bisa hanya mengambil keuntungan dari teknologi dan bekerja secara efisien, namun juga harus menjadi orang pertama yang datang ke kantor dan masih terus berusaha keras saat para pesaing sudah tertidur lelap. Bekerja lebih cerdas memang membari kita banyak waktu luang, tapi waktu yang dihambur-hamburkan begitu saja tidak akan berarti apa-apa bila tidak dimanfaatkan secara optimal.

Para Top CEO melaporkan bahwa waktu aktif mereka rata-rata berada pada jam 06:15, dengan waktu bangun tidurnya sebelum pukul lima, dan kebanyak dari mereka bekerja setidaknya dua jam di rumah setelah makan malam. Pada beberapa kasus, mereka secara terus-menerus bekerja 18 jam sehari. Banyak dari para pemimpin industri ini yang meraih kesuksesannya karena terus bekerja di saat yang lain tengah berleha-leha beristirahat.

Jika ingin menjadi sukses, kita tidak seharusnya hanya melengkapi diri dengan kerja lebih cerdas. Telah banyak orang-orang sukses yang bekerja cerdas, tapi mereka juga bekerja sangat keras. Mereka terus mempertahankan tingkat ketekunan yang sama dan terus belajar menemukan cara bekerja yang lebih efisien. Memang tidak semua orang yang bercita-cita menjadi CEO, namun bila hanya mencoba menemukan cara yang lebih efisien dalam bekerja, hanya akan membawa Anda melalui setengah jalan pertarungan.

Kerja keras dan kerja cerdas saja bahkan masih belum cukup bagi keberhasilkan suatu bisnis - kecerdikan, visi, perhitungan risiko, dan keburuntungan, semuanya memainkan peran - namun kerja keras dan cerdas sangatlah penting, dan berhentilah memperlakukan kedua hal tersebut seolah-olah dua hal yang saling bertentangan. Profesional muda dan pengusaha pemula harus bekerja lebih cerdas, lebih keras, lebih lama dan lebih baik - karena Anda sudah memasuki era persaingan.

 

Source: entrepreneur.com

Komentar

belum ada komentar

Silahkan Log In terlebih dahulu untuk memberikan komentar.

artikel terkait

Apa yang banyak perusahaan lakukan saat mencari seseorang untuk mengisi ...

Friday, 17 October 2014