Kerja Keras Sekalipun Belum Mampu Membuat Anda Jadi Pimpinan

Kerja Keras Sekalipun Belum Mampu Membuat Anda Jadi Pimpinan

Saya bisa asumsikan bahwa setiap pekerja pasti sudah sangat bekerja keras. Sayangnya, batasan yang disebut kerja keras itu masih sangat relative, berbeda di setiap orang. Bagi saya, bekerja keras adalah mampu mengalokasikan waktu 12 jam sehari untuk memenuhi semua kebutuhan klien. Tapi ada orang lain yang justru mampu mengalokasikan 16 jam setiap harinya bekerja penuh untuk menyelesaikan semua to-do list.

Berapa jam pun yang Anda atau saya habiskan setiap hari, apa sudah sangat yakin bahwa setiap jam nya dihabiskan secara efektif dan membuat kita pantas disebut the next leader? Belum tentu. Bekerja keras untuk memaksimalkan waktu dan kuantitas bukanlah modal menjadi pemimpin.  Perlu control agar membuat setiap pekerjaan berjalan efektif. Bila sudah mampu control efektifitasnya dan mantap kuantitasnya, Anda (atau saya) siap melanjutkan tugas sebagai pimpinan. Sekarang, saya akan berbagi secuil pengetahuan yang dimiliki tentang cara mengontrol pekerjaan agar masing-masing berjalan efektif:

1. Menyederhanakan Jadwal

Menjadi sibuk bukan soal kemampuan membuat penuh jadwal harian, seperti meeting marathon atau sebagainya. Hanya berfikir ‘sekedar penuh’ saja, hanya membuat Anda ‘sekedar sibuk’ saja. Tapi tiada guna. Beri setidaknya jeda 20 menit pada masing-masing jadwal pekerjaan, entah itu jadwal meeting, membuat strategi, dll. Setiap jeda 20 menit, Anda bisa melakukan evaluasi untuk pekerjaan sebelumnya, atau membuat persiapan untuk pekerjaan selanjutnya.

2. Skala Prioritas

Anda punya to-do list  luar biasa banyak per harinya. Lalu yang Anda lakukan hanya mencatat mereka lalu dikerjakan sesuai urutan nomor. Mana bagus. Review kembali semua to-do list Anda kemudian urutkan semuanya kembali dalam skala prioritas. Utama pekerjaan paling berat terlebih dahulu. Pakai metode Eisenhower box juga boleh, dimana pekerjaan dibagi dalam skala prioritas: 1. Pekerjaan Penting dan Urgent; 2. Pekerjaan Penting dan Tidak Urgent; 3. Pekerjaan Tidak Penting Tapi Urgent, atau; 4. Pekerjaan yang Tidak Penting dan Tidak Urgent.

Dengan merumuskan semua dalam skala prioritas, Anda akan tahu mana yang akan dikerjakan lebih dulu, mana yang bisa dikerjakan di urutan belakang, mana yang bisa didelegasikan pada yang lain, dan mana yang bisa dihapus dari to-do list.

 3.  Tetap Fokus Dan Berkelanjutan

Bukan hal asing lagi bila Anda tengah mengerjakan sesuatu, tiba-tiba atasan memberi tugas baru. Jangan karena diberi tiba-tiba, lantas pekerjaan sekarang harus dihentikan tiba-tiba. Lihat kembali tugas baru yang atasan berikan, lalu tentukan berada di skala prioritas yang dia. Jika tugas baru tidak lebih penting dan urgent dari tugas sekarang, maka dahulukan yang sudah Anda mulai sedari awal. Jangan pecah focus karena tugas baru.

Sekian ya. Semoga bisa membantu Anda tetap produktif, efektif, dan karir lebih maju.

Komentar

belum ada komentar

Silahkan Log In terlebih dahulu untuk memberikan komentar.

artikel terkait

Bagaimana definisi sukses menurut Anda? Menggunakan kamus online di kbbi ...

Thursday, 19 March 2015

Berapa besaran salary yang Anda peroleh sekarang. Sudah merasa tinggi ...

Tuesday, 24 March 2015